“Waduhh.. koq bahasa inggris thoo..” gumamnya dengan nada kecewa..
Kata-kata ini sering saya dengar ketika saya menawarkan materi baik buku maupun artikel-artikel dari situs-situs di internet.. Yang lebih disayangkan lagi, kata-kata itu muncul dari seorang tenaga pendidik tingkat perguruan tinggi bahkan beliau lulusan S2 yang bangga dengan gelar Master-nya.. ck..ck..ck..
Sebenarnya sudah berulang kali saya diminta tolong untuk mencarikan materi-materi yang bisa digunakan sebagai bahan pengajaran terutama mengenai isu-isu baru yang banyak beredar di internet. Dan memang sengaja saya cari materi-materi yang berbahasa inggris justru karena adanya keluhan itu juga (dengan kata lain pancen njarag..
).
Bukan karena sok atau pengen dibilang “keren” tapi dari awal saya dengar keluhan itu saya jadi tersenyum-seyum malu sendiri kalo membayangkan gimana reaksi anak didik beliau kalau ikut dengar keluhan seperti itu ya..????
Maksud saya sebenarnya cuma pengen mengingatkan (siapapun beliau) bahwa ilmu pengetahuan itu tidak mungkin diraih sebanyak-banyaknya kalau cuma mengandalkan kemampuan menguasai satu bahasa (bukan bahasa internasional pula..
). Sumber ilmu pengetahuan tidak hanya ada di depan mata tapi justru lebih banyak yang berasal dari luar berbagai macam budaya yang ada maupun pernah ada dan tidak akan pernah berhenti berkembang serta tersebar di “ruang” bagian manapun.. Kalau cuma mengandalkan saduran, sampai berapa tahun lagi kita akan ketinggalan?
Jujur saja, sebenarnya saya pun tidak terlalu pandai berbahasa asing bahkan beberapa materi itu pun saya tidak ngerti keseluruhan tapi kalau tidak mulai untuk mencoba sampai kapan kita akan terima keadaan yang sangat menyedihkan ini..
