“pesta demokrasi” mulai marak di daerah-daerah di Indonesia.. mulai dari Pilkada sampai dengan persiapan Pemilihan calon Pemimpin Bangsa.. banyak partai yang mulai melakukan reuni dengan rakyat miskin.. (bersukurlah rakyat miskin yang bisa bereuni dengan para elite politik paling tidak setiap 5 tahun sekali)
Kampanye-kampanye banyak digelar di daerah-daerah juga memberi banyak pemasukan bagi artis maupun para pengadu nasib lokal yang jeli memanfaatkan “moment” ini.. “Pesta Demokrasi” yang benar-benar terasa seperi sebuah pesta..
Dari sekian kali pencoblosan multi partai yang diselenggarakan sampai dengan sekarang mungkin baru sedikit dari begitu banyak bentuk kampanye yang bisa saya lihat dan rasakan.. Ketika itu teriakan “pembelajaran demokrasi” banyak juga dilontarkan para elite politik untuk membuka pintu masuk bagi calon-calon pemilih..
Dari pembelajaran itu, hingga saat ini saya baru merasa kalau demokrasi semakin aneh.. Bayangkan saja, kampanye sekarang sudah menyentuh ilmu biologi sebagai senjatanya.. Kalau di daerah saya ada calon pemimpin yang mengandalkan kumis sebagai senjata untuk menuju sebuah perbaikan.. ada juga yang mengusung isu gender yang katanya bisa mengasuh wilayah yang akan dipimpinnya.. Saya cari-cari visi dan misi-nya ternyata lebih susah dicari dibanding kumisnya yang mudah dijumpai tiap hari di iklan teve.. program-programnya juga masih seperti dulu atau bahkan tidak tampak..
Benar benar membingungkan.. Dan sepertinya mulai banyak bentuk demokrasi-demokrasi baru tercipta..
